Pages

Curug Bangkong

Lokasi: Terletak di Desa Kertawiratma, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat. 
 Peta dan Koordinat GPS: 7°0'18"S 108°25'28"E


Curug Bangkong memiliki ketinggian 23 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Daya tarik utama Curug ini terletak bila musim hujan tiba, dimana debit airnya akan membesar, menciptakan air terjun yang terbelah menjadi dua.

Selain di balik keindahan fenomena di atas, ternyata ada hal yang lain berupa cerita-cerita dari 'dunia lain' yang selalu mewarnai keberadaannya. Kabarnya, banyak pengunjung datang ke curug ini tak sekedar melancong, tapi untuk tujuan lain, seperti mencari berkah dan berburu kesaktian.

Legenda 
Menurut cerita dari mulut ke mulut, dahulu kala, ada seorang tua bernama Wiria, berasal dari Ciamis. Ia seorang pertapa, yang sedang berkelana. Secara tak sengaja ia menemukan sebuah air terjun atau curug dalam bahasa Sunda. Ketika itulah batinnya merasa terpanggil oleh kekuatan gaib yang ada di sekitar curug. Wiria yakin itulah tempat yang tepat untuk melakukan ‘tirakatnya’. Pun ia yakin bila di tempat itu pula ia akan dapat ilafat.

Disela-sela tirakat panjangnya, pria berpostur tinggi besar ini menyempatkan diri bergaul dengan masyarakat. Tak hanya itu. Ia pun mendidik masyarakat setempat tata cara membuat gula kawung (gula merah), yang bahan mentahnya melimpah di lingkungan sekitar. Dengan setia pula masyarakat setempat mengikuti ajaran Wira. Sehingga dalam waktu singkat, hampir seluruh penduduk desa pandai membuat gula kawung. Lama-lama pekerjaan itu menjadi mata pencaharian mereka.

Seiring dengan itu, nama Wiria menjadi tokoh yang disegani. Masyarakat memanggilnya Abah Wiria sebagai bentuk penghormatan. Suatu masa, kembali Wiria mendapat panggilan batin untuk melanjutkan tirakatnya. Ia pun kembali ke areal curug. Konon menurut cerita, Abah Wiria melakukan tapa bratanya itu di balik air terjun, dimana disinyalir di balik air terjun itu ada sebuah gua atau lubang tempat Abah Wiria melakukan semadinya.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Abah Wiria berada di sana. Masyarakat merasa kehilangan seorang tokoh yang selama ini membimbing mereka. Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan tokoh yang berjasa tersebut.

Teka-teki keberadaan Abah Wiria pun merebak ke antero desa. Warga lantas berinisiatif mencarinya, akan tetapi sosok Abah Wiria tak kunjung ditemukan. Dugaan bila Abah Wiria menghilang (moksa) karena telah sempurna melaksanakan ritual tapa bratanya.

Banyak yang menyakini bila tubuh orang tua itu telah menjelma menjadi seekor Bangkong (kodok). Hal itu lantaran sepeninggal Abah Wiria, disekitar air terjun itu sering terdengar suara kodok. Padahal selama ini, jarang warga disitu mendengar ada suara kodok dan anehnya ketika suara kodok itu didekati tiba-tiba menghilang.

Berdasarkan dugaan itu, akhirnya air terjun itu diberi nama Curug Bangkong. Dalam perkembangannya bila seseorang mengikuti jejak Abah Wiria bertapa disekitar Curig Bangkong, pastinya akan disambut suara kodok. Nah bila itu yang terjadi, konon sesorang akan bernasib baik, doanya akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Namun sayang kurangnya perhatian pemerintah membuat lokasi yang berpotensi menjadi tempat wisata ini kurang terawat akses jalan menuju curug bangkong ini sudah mulai rusak, juga minimnya sarana dan infrastruktur membuat wisatawan enggan datang. 

kuyen kuyasakti

Rakyat jelata yang haya ingin berbagi informasi.

No comments:

Post a Comment